
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Tiga tahap penghematan dilakukan guna meredam dampak rambatan konflik di Timur Tengah terhadap fiskal nasional.
Pemerintah Indonesia mengumumkan langkah strategis untuk memperketat ikat pinggang melalui skema efisiensi anggaran belanja negara dalam tiga tahapan pada tahun ini.
Kebijakan ini diambil sebagai langkah preventif dalam memitigasi risiko ekonomi global yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa protokol penghematan ini merupakan respons terukur terhadap ketidakpastian pasar global.
"Kami akan menjalankan skema ini secara bertahap, mulai dari tahap satu hingga tahap ketiga," ujar Purbaya, Kamis 26 Maret 2026.
Menjaga Ambang Batas Defisit
Langkah efisiensi ini merupakan realisasi dari komitmen pemerintah untuk menjaga disiplin fiskal. Total penghematan belanja yang ditargetkan mencapai Rp81 triliun.
Angka ini selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya ditegaskan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Purbaya optimistis bahwa melalui pengetatan ini, defisit anggaran akan tetap terkendali di bawah batas aman yang ditetapkan undang-undang, yakni 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah sendiri memproyeksikan angka defisit APBN 2026 berada pada level 2,68 persen.
"Struktur anggaran saat ini sudah sangat jelas. Kami memastikan APBN terkendali dan tidak akan menembus angka 3 persen," tegas Menteri Keuangan.
Relokasi Strategis Skala Besar
Selain efisiensi baru sebesar Rp81 triliun, pemerintah sebelumnya telah melakukan langkah radikal dengan merealisasikan relokasi anggaran senilai Rp800 triliun atau setara dengan US$70 miliar.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan bahwa upaya penyisiran anggaran ini dilakukan untuk memastikan setiap rupiah dialokasikan pada program prioritas yang memiliki dampak langsung terhadap ketahanan ekonomi nasional.
"Di luar nilai relokasi sebesar Rp800 triliun tersebut, Bapak Presiden memberikan instruksi tambahan untuk melakukan efisiensi kembali, dan kami telah mengidentifikasi potensi penghematan sebesar Rp81 triliun," ungkap Prasetyo dalam laporannya kepada Presiden di Hambalang, Selasa lalu.
Strategi berlapis ini diharapkan mampu memberikan bantalan fiskal yang kuat bagi Indonesia di tengah fluktuasi harga komoditas dan nilai tukar yang terdampak oleh situasi di Timur Tengah.
Editor: Redaktur TVRINews
