
Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews-Jakarta
Pemerintah proyeksikan pertumbuhan 6 persen melalui penguatan konsumsi domestik dan pengendalian inflasi.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa ketahanan ekonomi nasional saat ini berada dalam kondisi yang jauh lebih stabil dibandingkan persepsi pasar terhadap ketidakpastian global.
Dalam forum ekonomi di Jakarta, pemerintah memberikan sinyal optimisme terhadap penguatan konsumsi domestik sebagai motor penggerak pertumbuhan utama.
Purbaya menyoroti bahwa narasi negatif mengenai perlambatan global sering kali tidak sejalan dengan realitas performa ekspor Indonesia. Berdasarkan data terkini, neraca perdagangan nasional mencatatkan surplus signifikan sebesar USD 38,54 miliar sepanjang periode Januari hingga November 2025.
"Ketidakpastian ekonomi memang selalu ada, namun kondisi global sebenarnya tidak seburuk yang dikhawatirkan. Jika kita melihat surplus neraca perdagangan, itu adalah indikator bahwa ekonomi luar masih menyerap komoditas kita," ujar Purbaya dalam agenda Indonesia Fiscal Forum 2026, Selasa 27 Januari 2026.
Mematahkan "Kutukan 5 Persen"
Pemerintah kini membidik target pertumbuhan ekonomi yang lebih ambisius, yakni di angka 6 persen pada tahun ini. Angka tersebut melampaui rata-rata pertumbuhan tahunan Indonesia dalam satu dekade terakhir yang kerap tertahan di level 5 persen.
Optimisme ini didukung oleh proyeksi pertumbuhan triwulan IV 2025 yang diperkirakan menyentuh 5,45 persen, dengan tingkat inflasi tahunan yang terjaga stabil di angka 2,92 persen.
"Domestik kita cukup bagus. Jangan terus menebar kekhawatiran yang berlebihan. Dengan inflasi yang rendah, kita memiliki ruang yang cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih agresif," tambahnya.
Ruang Kebijakan yang Fleksibel
Secara lebih rinci, Purbaya menjelaskan bahwa inflasi inti Indonesia saat ini berada di level 2,3 persen. Jika komponen harga emas dikesampingkan, angka tersebut menyusut hingga 1,5 persen.
Rendahnya tekanan demand-pull inflation memberikan fleksibilitas bagi pemerintah untuk memacu aktivitas ekonomi tanpa risiko kenaikan suku bunga yang drastis dari Bank Sentral.
Mengutip koordinasi dengan Bank Indonesia (BI), Purbaya mengungkapkan adanya potensi pertumbuhan (potential growth rate) yang bisa mencapai 6,2 persen.
"Jika target 6 persen tercapai, Indonesia secara resmi akan melakukan breakout dari tren 5 persen. Ini adalah momentum bagi kita untuk tumbuh lebih cepat, mengulang pencapaian yang terakhir kali kita rasakan pada tahun 2012," pungkasnya.
Hingga awal tahun 2026, fokus utama kebijakan fiskal tetap tertuju pada menjaga daya beli masyarakat dan mengelola stabilitas harga pangan guna memastikan target ekspansi ekonomi tetap berada di jalurnya.
Editor: Redaktur TVRINews
