
Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Jakarta
Ketidakpastian global yang meningkat akibat tensi geopolitik dan gangguan rantai pasok terus menjadi tantangan bagi perekonomian dunia. Dalam kondisi tersebut, Indonesia tetap menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat, ditopang oleh konsumsi domestik serta peran strategis kelas menengah sebagai penggerak utama aktivitas ekonomi nasional.
"Kalau dilihat dari share-nya ke ekonomi kita, betapa pentingnya peran kelas menengah di Indonesia. Tidak hanya share-nya terhadap spending, konsumsi rumah tangga yang tadi disampaikan, komposisi PDB kita 54-55% adalah dari konsumsi rumah tangga," ujar Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso dalam keterangannya, pada Jumat 17 April 2026.
Dalam paparannya, Susiwijono menjelaskan bahwa dinamika global yang memengaruhi sektor energi dan logistik berpotensi menekan pertumbuhan dunia. Meski demikian, struktur ekonomi Indonesia dinilai relatif lebih resilien karena tidak terlalu bergantung pada perdagangan luar negeri dibandingkan negara lain.
Berbagai indikator makro ekonomi nasional menunjukkan kinerja yang solid. Pertumbuhan ekonomi tetap berada di kisaran 5%, inflasi terkendali, serta didukung oleh kinerja neraca perdagangan dan indikator keyakinan konsumen yang tetap positif. Pemerintah pun optimistis target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% pada tahun 2026 akan dapat tercapai.
Di tengah ketahanan tersebut, kelas menengah tetap menjadi perhatian utama. Kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah saat ini mencapai sekitar 66,35% dari total penduduk atau sekitar 185,35 juta orang, sekaligus menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga dan daya beli nasional.
Pemerintah juga mencermati adanya pergeseran proporsi kelas menengah ke kelompok menuju kelas menengah yang mengindikasikan adanya tekanan terhadap daya beli, terutama di wilayah perkotaan. Kondisi ini menjadi perhatian penting dalam perumusan kebijakan ke depan.
Selain itu, kelas menengah juga mengalami perubahan karakteristik, seperti pergeseran lapangan pekerjaan ke sektor jasa dan penurunan proporsi pekerja formal. Pola konsumsi kelompok ini pun kini lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan non-makanan seperti perumahan, transportasi, dan gaya hidup.
Lebih lanjut, Sesmenko Susiwojono menyampaikan terkait fenomena Chilean Paradox sebagai pengingat agar kebijakan ekonomi tetap berpihak pada peningkatan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah berkomitmen terus memperkuat program seperti insentif perpajakan, dukungan sektor perumahan melalui FLPP, serta subsidi energi.
“Kami menyambut baik hasil survei dari Katadata. Nanti kita diskusi bersama-sama bagaimana data-data yang sudah disurvei dari teman-teman tadi, kita manfaatkan sebagai referensi utama di dalam membuat program-program ke depan. Sehingga kelas menengah kita yang menjadi tulang punggung penentu ekonomi Indonesia betul-betul kita dorong, kita berdayakan, dan berkontribusi positif untuk perekonomian nasional Indonesia,” pungkas Sesmenko Susiwijono.
Editor: Redaktur TVRINews
