
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia (Foto: Tangkapan Layar YouTube Setpres)
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa Indonesia akan terus membuka peluang bagi investasi asing dalam sektor mineral kritikal, termasuk dari negara-negara seperti Amerika Serikat.
Hal tersebut disampaikan oleh Bahlil dalam konferensi pers terkait Implementasi Teknis Perjanjian Perdagangan Timbal Balik RI-AS secara daring di YouTube Setpres, Jum'at, 20 Februari 2026.
Bahlil menegaskan bahwa Indonesia mengedepankan asas politik bebas aktif dalam diplomasi luar negeri, yang juga diterapkan dalam sektor ekonomi.
"Kami memberikan ruang yang sama kepada semua negara, termasuk Amerika Serikat, untuk melakukan investasi di Indonesia, khususnya di sektor mineral kritikal," ujar Bahlil.
Indonesia telah memberikan contoh nyata melalui perjanjian dengan perusahaan Freeport, yang telah berinvestasi dalam pembangunan smelter tembaga terbesar di dunia dengan nilai hampir 4 miliar USD.
“Perjanjiannya sudah kita lakukan dengan baik, dan Freeport mengikuti aturan yang berlaku di Indonesia,” tambah Bahlil.
Selain Freeport, pemerintah Indonesia juga membuka peluang investasi serupa untuk pengusaha-pengusaha asing dalam pengelolaan mineral kritikal seperti nikel, logam tanah jarang, dan mineral lainnya.
Meskipun demikian, Bahlil menekankan bahwa semua investasi yang dilakukan harus mengikuti aturan yang ada di Indonesia.
"Kami akan mendukung dan memfasilitasi proses investasi, termasuk pembangunan smelter di Indonesia. Tetapi, ini bukan berarti Indonesia akan membuka ekspor barang mentah. Investasi harus melibatkan pemurnian di dalam negeri, dan hasilnya baru bisa diekspor," jelasnya.
Dengan kebijakan ini, Indonesia berharap dapat memaksimalkan nilai tambah dari pengelolaan mineral kritikal dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting di pasar global.
Editor: Redaktur TVRINews
