
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Selasa, 17 Maret 2026 meski masih dibayangi potensi pelemahan sepanjang hari.
Mengacu pada data Bloomberg pukul 09.00 WIB, rupiah tercatat menguat 0,15 persen ke level Rp16.971 per dolar AS. Penguatan ini terjadi seiring pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,20 persen ke posisi 99,91.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau bervariasi. Yen Jepang melemah 0,19 persen, dolar Hong Kong turun 0,02 persen, dan dolar Singapura terkoreksi 0,05 persen. Sementara itu, dolar Taiwan menguat 0,36 persen dan peso Filipina naik 0,34 persen.
Selain itu, yuan China menguat 0,12 persen, ringgit Malaysia naik 0,07 persen, sedangkan won Korea Selatan melemah 0,02 persen dan baht Thailand turun 0,36 persen.
Meski dibuka menguat, sejumlah analis memperkirakan rupiah berpotensi kembali tertekan ke kisaran Rp16.990 hingga Rp17.050 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Analis pasar uang Ibrahim menjelaskan, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz yang semakin memanas.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menantikan pertemuan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan berlangsung pekan depan untuk membahas arah kebijakan suku bunga.
Menurut Ibrahim, lonjakan harga minyak mentah global yang telah menembus level US$100 per barel berpotensi mendorong inflasi. Kondisi tersebut membuka peluang bagi The Fed untuk mempertahankan, bahkan menaikkan suku bunga acuannya.
Dari dalam negeri, kenaikan harga minyak juga dinilai berisiko memperlebar defisit anggaran. Ia menyebut harga minyak yang berada di atas US$92 per barel berpotensi menekan fiskal pemerintah.
“Beberapa pengamat menilai defisit anggaran harus tetap dijaga di kisaran 3 persen, salah satunya dengan melakukan efisiensi belanja,” ujar Ibrahim.
Ia menambahkan, tekanan terhadap fiskal dan persepsi risiko tersebut dapat memengaruhi penilaian lembaga pemeringkat internasional terhadap utang Indonesia, yang pada akhirnya berimbas pada pelemahan nilai tukar rupiah.
Editor: Redaksi TVRINews
