
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu, 11 Maret 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda dipengaruhi sentimen geopolitik global serta sorotan terhadap kondisi fiskal domestik.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terdepresiasi 0,14 persen atau 23 poin ke level Rp16.886 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat menguat tipis 0,05 persen ke posisi 98,87.
Pergerakan tersebut berbanding terbalik dengan kinerja rupiah pada perdagangan sebelumnya. Pada Selasa, 10 Maret 2026, rupiah sempat menguat 85 basis poin atau sekitar 0,50 persen ke level Rp16.864 per dolar AS, sedangkan indeks dolar AS turun 0,68 persen ke posisi 98,50.
Sebelumnya pada perdagangan pagi hari, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat terbatas di kisaran Rp16.800 hingga Rp16.950 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik yang memicu kekhawatiran pasar global.
Menurutnya, pasar tengah mencermati potensi gangguan pasokan energi dunia setelah Iran dilaporkan memblokir jalur pelayaran di Selat Hormuz sebagai respons atas konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
“Pasar terguncang oleh potensi gangguan pasokan energi global setelah Iran mulai memblokir Selat Hormuz. Teheran juga menyatakan akan terus menyerang kapal di kawasan itu hingga permusuhan terhadap Republik Islam dihentikan,” kata Ibrahim.
Di sisi lain, Donald Trump sempat menyatakan konflik hampir berakhir. Namun, pemerintah Iran menolak klaim tersebut dan menegaskan bahwa Teheran akan menentukan sendiri kapan konflik tersebut selesai.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi distribusi minyak dan gas dunia, khususnya untuk kawasan Asia. Gangguan pada jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi serta berdampak pada negara-negara yang bergantung pada impor energi.
Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga memengaruhi pergerakan rupiah. Ibrahim menjelaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia saat ini menjadi perhatian investor global, terutama setelah sejumlah lembaga pemeringkat internasional memberikan pandangannya terhadap prospek ekonomi nasional.
Beberapa lembaga pemeringkat global seperti Moody's, S&P Global Ratings, dan Fitch Ratings menyoroti perkembangan fiskal Indonesia, termasuk pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025.
Defisit anggaran tercatat mencapai 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dari target dalam Undang-Undang APBN 2025 yang sebesar 2,53 persen.
Pelebaran defisit tersebut antara lain dipengaruhi oleh penerimaan pajak yang tidak mencapai target, yakni sebesar Rp1.917,6 triliun atau sekitar 87,6 persen dari target tahun 2025.
Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah.
“Pada perdagangan hari ini rupiah ditutup melemah 23 poin di level Rp16.886 per dolar AS. Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.880 hingga Rp16.910 per dolar AS,” ujarnya.
Editor: Redaksi TVRINews
