
Foto: Tangkapan Layar Youtube BPS
Penulis: Fityan
TVRINews-Jakarta
BPS mencatat inflasi bulanan sebesar 0,68% akibat naiknya harga komoditas menjelang bulan Ramadan.
Tekanan harga konsumen di Indonesia menunjukkan tren penguatan signifikan pada bulan kedua tahun ini. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi sebesar 0,68% secara bulanan (mtm) pada Februari 2026.
Lonjakan ini menandai pergeseran drastis setelah sebelumnya Indonesia mencatatkan deflasi sebesar 0,15% pada Januari lalu.
Momentum menjelang Ramadan diidentifikasi sebagai faktor utama di balik kenaikan biaya hidup masyarakat, khususnya pada sektor pangan.
Dominasi Sektor Pangan dan Tembakau
Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Senin (2/3), Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor utama pergerakan angka inflasi.
Kelompok ini mencatatkan inflasi sebesar 1,54% dengan kontribusi terhadap inflasi nasional mencapai 0,45%.
"Tingkat inflasi month-to-month pada Februari 2026 tercatat 0,68%, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date) berada di angka 0,53%," ujar Ateng Hartono.
Ia merinci sejumlah komoditas yang menjadi penyumbang utama kenaikan harga, di antaranya:
• Daging ayam ras: andil 0,09%
• Cabai rawit: andil 0,08%
• Ikan segar: andil 0,05%
• Cabai merah: andil 0,04%
• Beras, telur ayam, dan tomat: masing-masing berkontribusi 0,02%
Melampaui Ekspektasi Pasar
Realisasi data BPS ini melampaui proyeksi sejumlah analis. Sebelumnya, konsensus pasar yang dihimpun oleh CNBC Indonesia dari 13 lembaga keuangan memperkirakan inflasi bulanan hanya akan berada di kisaran 0,3%.
Secara tahunan (year-on-year), inflasi Februari 2026 diprediksi menyentuh angka 4,34%, dengan inflasi inti yang diperkirakan menguat ke level 2,49%.
Editor: Redaksi TVRINews
